Samarinda (Humas) - Dalam rangka memastikan kelancaran dan kualitas pelaksanaan evaluasi akademik di lingkungan madrasah, Pengawas Madrasah H. Syafrudin, S.Pd.I., M.Pd., melaksanakan kegiatan monitoring Tes Kemampuan Akademik (TKA) Tahun 2026 pada Kamis (23/4). Monitoring ini dilaksanakan di dua Madrasah Ibtidaiyah, yakni MI Nurul Hidayah yang berlokasi di Jalan Samarinda -Bontang, Tanah Merah, Samarinda Utara, serta MI Ma’arif NU 002 yang berada di Jalan Pasundan, Sindang Sari, Makroman, Kecamatan Sambutan.
Kegiatan
monitoring ini bertujuan untuk memastikan bahwa seluruh tahapan pelaksanaan TKA
berjalan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan, baik dari segi teknis,
administrasi, maupun kesiapan sarana dan prasarana pendukung. Selain itu,
monitoring juga menjadi sarana evaluasi langsung terhadap pelaksanaan ujian di
lapangan, sehingga dapat diketahui berbagai kelebihan maupun kendala yang
dihadapi oleh madrasah.
Pada hari
pelaksanaan monitoring, pengawasan difokuskan pada dua sesi ujian, yakni sesi
pertama di MI Nurul Hidayah dan sesi kedua di MI Ma’arif NU 002 Sambutan.
Pengawas melakukan pemantauan secara langsung terhadap proses pelaksanaan
ujian, mulai dari kesiapan ruang ujian, kelengkapan perangkat, hingga
kedisiplinan peserta dan pengawas ruang.
Pelaksanaan
TKA di kedua madrasah ini berlangsung selama dua hari, yaitu pada tanggal 22
hingga 23 April 2026. MI Nurul Hidayah melaksanakan ujian dalam satu gelombang
yang terbagi menjadi dua sesi, sementara MI Ma’arif NU 002 melaksanakan ujian
dalam satu gelombang yang terdiri dari tiga sesi. Setiap sesi ujian
dilaksanakan selama 1 jam 45 menit, dengan pengaturan waktu yang telah disusun
secara sistematis untuk memastikan efektivitas pelaksanaan.
Dari segi
jumlah peserta, MI Nurul Hidayah diikuti oleh 19 siswa, sedangkan MI Ma’arif NU
002 diikuti oleh 42 siswa. Seluruh peserta mengikuti ujian dengan tertib dan
penuh kesungguhan, menunjukkan kesiapan mereka dalam menghadapi evaluasi
akademik di akhir jenjang pendidikan dasar.
Untuk menjaga
integritas dan objektivitas pelaksanaan ujian, sistem pengawasan dilakukan
secara silang antar madrasah. MI Nurul Hidayah diawasi oleh pengawas ruang dari
MI Syaichona Cholil, sementara MI Ma’arif NU 002 diawasi oleh pengawas dari MI
Al Mujahidin. Pola pengawasan silang ini dinilai efektif dalam meminimalisir
potensi kecurangan serta meningkatkan kredibilitas hasil ujian.
Dari sisi
sarana dan prasarana, kedua madrasah menunjukkan kesiapan yang cukup baik. MI
Nurul Hidayah memanfaatkan fasilitas komputer yang tersedia di laboratorium
bahasa milik Yayasan Nurul Hidayah sebagai media pelaksanaan ujian. Sementara
itu, MI Ma’arif NU 002 menggunakan perangkat laptop milik guru dan madrasah
untuk menunjang pelaksanaan TKA berbasis teknologi. Meskipun menggunakan
fasilitas yang berbeda, pelaksanaan ujian di kedua lokasi tetap berjalan lancar
tanpa kendala berarti.
Selama
kegiatan monitoring, pengawas juga melakukan koordinasi dengan panitia
pelaksana dan pihak madrasah guna memastikan seluruh prosedur operasional
standar (POS) telah dilaksanakan dengan baik. Hal ini mencakup pengaturan
jadwal, distribusi soal, pengawasan ruang, hingga pengelolaan peserta ujian.
Berdasarkan
hasil monitoring yang dilakukan, pelaksanaan TKA sejak hari pertama hingga hari
kedua di kedua madrasah tersebut berlangsung dengan tertib, lancar, dan sesuai
dengan ketentuan yang berlaku. Tidak ditemukan kendala signifikan yang dapat
menghambat jalannya ujian, sehingga seluruh rangkaian kegiatan dapat
diselesaikan dengan baik.
Kegiatan
monitoring ini menjadi bagian penting dalam upaya peningkatan mutu pendidikan
madrasah, khususnya dalam pelaksanaan evaluasi pembelajaran. Melalui monitoring
yang intensif dan berkelanjutan, diharapkan pelaksanaan TKA ke depan dapat
terus ditingkatkan, baik dari segi kualitas maupun profesionalitas
penyelenggaraannya.
Dengan
terlaksananya monitoring ini, diharapkan seluruh madrasah dapat terus menjaga
komitmen dalam menyelenggarakan proses evaluasi pendidikan yang transparan,
akuntabel, dan berorientasi pada peningkatan kualitas hasil belajar peserta
didik. (DNA/foto:PP)
